Kupandangi terus gerombolan Merpati di tepi pantai itu, bulu
coklat dan putihnya semakin cantik terpapar lembayung senja.
Aku
sendirian, menunggu matahari tenggelam ke dalam lautan. Ada gusar yang sempurna
menyelinap di balik eksotis warna senja. Aku mencintai desah ombak yang menyapu
bibir pantai, meski ia tak pernah menyapu kenangan.
Kenangan
dari warna suara yang tak pernah tertukar dalam gelombang. Tentang seseorang
yang menarik perhatian dan cinta dalam hitungan detik, tentang seseorang yang
pergi tanpa mengucapkan “selamat tinggal”.
***
“Kania,
jangan direkam dong.” Ia mendekatiku dan meraih camera yang kupegang. “Kamu
suka banget ngerekam?”
“Suka aja.”
Jawabku cekikikan, masih sambil
mempertahankan camera yang kupegang mempertahankan muka risihnya.
“Kenapa
harus suka video, Kania?” Ia masih berusaha meraih camera di tanganku, dan kali
ini ia berhasil.
“Karena..
Menurut aku, kalau kita enggak bisa ketemu nanti ya kita bisa langsung lihat
videonya.” Aku hampir menjelaskan sebagian perasaanku, ternyata.
“Berarti
seandainya kamu enggak bisa ketemu aku lagi, kamu bakal kangen sama aku?” Bola
matanya berkumpul di sebelah kiri, mendelik menggodaku.
“Hmm,
enggak.. enggak.. bukan itu maksudnya.” Dan aku, gugup.
“Ayo
ngaku??”
Seseorang
yang berhasil membuatku gugup itu bernama Billy Rahardjo, mahasiswa Teknik yang
satu Universitas denganku. Yang ku kenal secara tak sengaja di sebuah jembatan
yang menghubungkan fakultas kami, Teksas.
Singkatnya
kami berkenalan dan kemudian, bisa disebut kencan. Kencan ketiga aku mulai
senang merekamnya. Keempat, kelima, keenam, hingga kencan kesekian yang tak
terhitung. Aku masih senang terus merekamnya, hingga ia menghilang.
Billy, aku
telah mendayuh dari satu kenangan ke kenangan yang lain, namum di setiap
dermaganya ada kau. Bisakah kau berhenti menjadi sekedar kenangan?
***
Bahagia
yang ku miliki sempurna lenyap, mungkin ditikam gulungan ombak yang ada di
hadapanku saat ini. Meski waktu berjalan melewati dua September, ia tetap tak
tergantikan. Suaranya entah mengiang atau mengaung di sekelilingku, Billy tak
pernah pergi sejengkal pun dari otakku, Billy Billy dan Billy.
Aku
menyandarkan kepala di bahu tegaknya, disini lain. Aku yakin setiap orang
memiliki tempat terbaik yang dianggapnya, dan disini tempatku, bahu Billy. “Bil,
kalau kita lulus nanti, kamu mau kemana?”
“Aku,
belum tahu. Kamu?” Ia tak berekspresi, air wajahnya datar. Aku meliriknya.
“Aku, aku
juga belum tahu.”
Hampir
empat tahun aku dan Billy menjalin sebuah hubungan, yang tak sadar kapan
dimulainya, yang mengalirkan cinta dari detik-detik pertama bertemu hingga aku
sadar bahwa aku tak ingin mengakhirinya.
“Billy..”
“Iya,
Kania?”
“Sampai
kapan kamu di samping aku?”
“....” Ia
hanya diam, mengusap rambut kecoklatanku, dan menciumnya.
***
Lautan di
ufuk barat itu kini telah melahap sebagian tubuh matahari, senja semakin
lembayung. Menabur warna sepi di muka air asin yang menyantapnya. Tahukan ia,
resah ini bak irisan belati pada mangsanya.
Baru
kemarin rasanya, aku melewati malam dingin berselimutkan sweater Billy, memeluk
erat diatas laju kencang sepeda motornya. Ingin ku ulang. Lewat video-video
yang ku kumpulkan, aku merindukannya. Lewat senja, ombak dan angin.
***
Hari itu,
seandainya dapat kuhapus.
Aku mulai
cemas ketika bahkan ia tak dapat menjawab sampai kapan ia ada di sampingku,
namun aku tetap diam seolah semua akan baik-baik saja.
“Kania,
kamu siap?” pop up SMS muncul di layar handphoneku, pagi ini seharusnya aku
bahagia, tapi... sesuatu yang dingin menyelinap ke dalam ruang yang tak ku
kenali.
“Hmm, Siap
dong Billy J.” Aku membalas
pesannya.
Hari ini, sebagian
mahasiswa 2007 akan resmi mendapat gelar Sarjana, aku dan Billy adalah dua
diantaranya.
Terbayang seorang
gadis dengan seragam SMA berkepang dua berjalan melewati panjangnya jalanan
trotoar, bertopi penyihir, berpapan nama merah muda dengan tulisan “KANIbAl”
ketika aku melewati gedung demi gedung menuju Balairung. Gadis itu aku, empat
tahun lalu. Hari ini, aku melewati jalanan ini dengan kebaya coklat creamy, rambutku membentuk bulatan indah
bernama konde. Hari ini, aku menjemput gelar sarjanaku.
Perjalanan
menuju Balairung menyelimutkan haru, aku sedikit mengenang dan meneteskan air
mata.
Billy
nampaknya sudah siap menyambut kedatanganku, langkahnya hampir saja bisa disebut
lari. Hari ini, ia menatapku dengan cara yang berbeda. Entah karena kebayaku,
atau sesuatu yang lain...
“Billy,
gimana?” Aku menunjukkan penampilanku pada Billy, dengan senyum yang
kuusahakan, entahlah ada sesuatu yang beku, yang ingin kupecahkan.
“Cantik, Kania. Kamu selalu cantik.” Deretan
giginya berjajar memamerkan senyum paling indah sedunia yang ku punya, yang aku
sama sekali tak ingin kehilangannya.
Kami
memasuki Balairung bersama, Billy menggenggam tanganku. Sedikit atau banyak,
Billy memang berbeda hari ini. Ia tak berhenti melihat ke arahku, seolah ia
takut kehilangan jejakku.
Beberama
menit aku selesai meraih gelar sarjanaku, Billy tersenyum hangat dari pojok
sana, tempatnya bersama teman-teman fakultas tekniknya. Ia menatapku dengan
berkaca-kaca, aku melihatnya. Ia terharu dan pergi ke toilet untuk memuaskan
harunya, pikirku.
Handphoneku
bergetar, satu pesan baru dari Billy.
“Selamat
Kania, I’ll always love you.”
“Thanks
for everything Billy, you too congratulation J. I’ll too.” Aku
membalasnya tanpa sedikit pun curiga, seolah memang semua akan baik-baik saja.
Sampai sore
tiba, ketika Balairung hampir sepi, aku masih menunggu Billy yang tak kembali
sejak kupikir ingin memuaskan haru, aku belum sempat mengambil videonya dengan
Toga hari ini. Aku mulai cemas, setelah setiap teleponku berakhir mailbox.
Sejak saat
itu, Billy tak pernah kembali.
***
Billy,
wajahmu itu mendamaikan, setiap resahku luluh habis dalam dekapmu, aku merindu
lagi. Kini tak satu pun tangis yang kau redam, kau tak disini. Aku melahapnya
sendirian. Sedikit lagi saja, lautan itu akan menenggelamkan surya tanpa ampun.
Seperti kau menenggelamkan rinduku tanpa ampun pula.
Entah
salah siapa, sampai saat ini aku belum bisa menghentikan bayangannya. Namun, ia
menanam cinta dengan cara terbaiknya di hatiku, hingga berakar rindu sampai ke
setiap pembuluh di sekelilingnya, mematikan aku ketika sakau ingin bertemu.
Tapi, pada
siapa aku harus menitipkan surat yang berisi deburan rasa yang
menghantam-hantam dinding hatiku? Kemana aku harus mengirimka pesan untuk
menghabisi sakauku?
Tak ada
yang tahu Billy dimana..

bagus banget ceritanya mbak, suka banget :)
BalasHapus