Selasa, 09 Juli 2013

Malaikat Baru


Kutangkap rautnya sesaat di tengah nafas yang diburu sesak, kening yang dibalut kulit sawo matang itu berkerut, tatapannya tajam meloncati kaca kendaraan yang ia kemudikan saat ini. Aku  yakin ia sedang bersumpah serapah memaki-maki dalam hatinya, ia seperti ingin menghabisi semua kendaraan yang melintas di hadapan kami. Aku tak begitu peduli, sekalipun ia akan menabrakkan mobil ini sampai hancur berkeping-keping, aku tak peduli. Hatiku remuk.
Aku sibuk dengan bayangan  Adit, yang tidak lagi merasa bersalah ketika air mataku jatuh berhamburan karenanya. Lagi dan lagi episode ter-entah apa namanya itu berputar dalam ingatanku.
“Mas, stop stop.. berhenti sebentar.” Pintaku tergesa-gesa pada Panji, laki-laki yang mengendalikan kendaraan di sampingku ini.
“Kenapa Sonya?” Jawabnya tampak keheranan, tapi ia tetap menginjak rem hingga kami menepi di pinggir jalan di depan Boemi Joglo jalanan Dago.
Pertanyaan Panji berlalu tanpa kujawab, aku masih tergesa-gesa membuka kaca mobil dan masih tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
Benar, pria berkemeja biru muda itu Adit kekasihku. Ia bersama seorang wanita dengan rambut terurai. Aku belum tahu siapa wanita itu, wajahnya masih samar-samar dari jarak yang cukup jauh ini.
Kuputuskan untuk turun dan mendekat selangkah demi selangkah.
Astaga, itu wanita yang pernah merusak hubunganku dengan Adit dua tahun yang lalu, Adit pernah meninggalkanku karenanya. Ada beberapa letupan yang menerka-nerka disini, mungkin seseorang menyebutnya risau.
Aku semakin mendekat dengan mata berkaca-kaca, terkaan-terkaan yang tak bisa kutaklukkan. Langkahku gontai berbaur rasa sakit yang tiba-tiba mencekik, ada sesuatu yang salah disini, sesuatu yang bukan semestinya.
“Dit..” Sapaanku terseret isak, aku tak lagi dapat melanjutkan kalimat, aku lemah.
 “Sonya..” Adit seperti kaget melihatku yang tiba-tiba berada di belakangnya, memergokinya membelai rambut wanita itu.
“Kenapa? Kamu kaget?” tukasku cekat ditemani dengan air mata yang menyembur, hingga pipiku dilewati bulir-bulir halus, menderas.
“Kamu, kamu ngapain disini Sonya? Harusnya kan kamu lagi nemenin Mama?”
“Ngapain? Aku ngapain disini? Aku harusnya nemenin Mama kamu, dan kamu nemenin dia disini? Iya?” Emosi yang menyergap nalarku tak dapat lagi kukendalikan. Tatapanku mengepung gelagat mereka berdua. Wanita itu tersenyum picik layaknya pelacur yang berhasil merebut suami orang.
“Bukan itu maksud aku.” Adit menanggapi kata-kataku dengan gugup dan serba salah. Lalu ia menoleh ke arah Panji yang sudah bersandar di belakang mobilnya. “Hey, kamu sama siapa? Oh dia, dia laki-laki pilihan Ayah kamu. Dan sekarang jadi pilihan kamu juga? Hahaha” Tawanya memboikot negeri antah berantah bernama hati ini, membuatnya semakin tercekat, pilu.
“Aku belum milih dia, aku masih mempertahankan kamu. Tadi dia tiba-tiba datang dan ngajak aku pulang disuruh Ayah, aku enggak bisa nolak.” Lihatlah, aku masih mencoba menjelaskan yang sudah tak perlu kujelaskan.
“Haha omong kosong. Kamu suka juga kan sama dia?”
“Ini cara kamu menutupi kesalahan? Ini cara kamu pertahanin aku?” Ada kecewa yang datang saat ia tak lagi peduli yang kurasakan, apa aku yang terlalu perasa? Kupikir bukan, sakit yang amat itu wajar dirasakan ketika bahkan orang yang kau cintai tak berniat mengusap air matamu.  
Panji bersuara dengan lantang, kurasa getaran molekul udara itu menyambar ke arahku, meskipun Panji berteriak pada Adit.
“Kalau lo sayang sama Sonya, lo ga akan nutupin kesalahan lo dengan mojokin dia di saat kaya gini.” Tatapan itu, Panji menatap Adit murka.
“Oh, elo yang dipilih bokap Sonya? Lo mau dia? Ambil!” Adit.....
Satu biji anak amunisi yang entah berasal dari mana meledak di bagian hati terdalamku, tepat di sarang asmara yang kusebut cinta. Ada yang berhenti bernafas di dalam sini, kembang kempis yang melemah namun tak bisa mati, cinta untuk seseorang yang menemanimu sampai berkali-kali tahun berganti, dengan sempurna bak malaikat.
Tiba-tiba tonjokan Panji mendarat di muka Adit dengan keras, ledakan anak amunisi tadi semakin ketar-ketir. Aku tak tahu apa yang kurasakan. Bumi yag kuinjak seperti berputar, hentakan kaki yang tak lagi seimbang. Tatapanku mengabur dan hanya menangkap suara dengan samar-samar, mereka berkelahi. Mereka, Adit dan Panji.
Hanya satu kalimat Panji yang kudengar meski samar-samar “Sonya mati-matian nolak gua cuma buat pertahanin cowok brengsek kaya lo!” Ia merangkul pundakku, memapahku masuk lagi ke dalam mobil.
Sejak tadi kami saling diam, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Panji dengan amarahnya, dan aku, dengan rasa sakitku.
Dalam hening yang ditinggal riang, muncul harapanku setelah amarahnya. Meski ada kata-kata yang tak terungkap sejak kutahu kekasihku tak peduli, perih yang terpenjara dan tak tersampaikan.



0 komentar:

Posting Komentar