Kutangkap
rautnya sesaat di tengah nafas yang diburu sesak, kening yang dibalut kulit
sawo matang itu berkerut, tatapannya tajam meloncati kaca kendaraan yang ia
kemudikan saat ini. Aku yakin ia sedang
bersumpah serapah memaki-maki dalam hatinya, ia seperti ingin menghabisi semua
kendaraan yang melintas di hadapan kami. Aku tak begitu peduli, sekalipun ia
akan menabrakkan mobil ini sampai hancur berkeping-keping, aku tak peduli.
Hatiku remuk.
Aku
sibuk dengan bayangan Adit, yang tidak
lagi merasa bersalah ketika air mataku jatuh berhamburan karenanya. Lagi dan
lagi episode ter-entah apa namanya itu berputar dalam ingatanku.
“Mas,
stop stop.. berhenti sebentar.” Pintaku tergesa-gesa pada Panji, laki-laki yang
mengendalikan kendaraan di sampingku ini.
“Kenapa
Sonya?” Jawabnya tampak keheranan, tapi ia tetap menginjak rem hingga kami
menepi di pinggir jalan di depan Boemi Joglo jalanan Dago.
Pertanyaan
Panji berlalu tanpa kujawab, aku masih tergesa-gesa membuka kaca mobil dan
masih tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
Benar,
pria berkemeja biru muda itu Adit kekasihku. Ia bersama seorang wanita dengan
rambut terurai. Aku belum tahu siapa wanita itu, wajahnya masih samar-samar dari
jarak yang cukup jauh ini.
Kuputuskan
untuk turun dan mendekat selangkah demi selangkah.
Astaga,
itu wanita yang pernah merusak hubunganku dengan Adit dua tahun yang lalu, Adit
pernah meninggalkanku karenanya. Ada beberapa letupan yang menerka-nerka
disini, mungkin seseorang menyebutnya risau.
Aku
semakin mendekat dengan mata berkaca-kaca, terkaan-terkaan yang tak bisa
kutaklukkan. Langkahku gontai berbaur rasa sakit yang tiba-tiba mencekik, ada
sesuatu yang salah disini, sesuatu yang bukan semestinya.
“Dit..”
Sapaanku terseret isak, aku tak lagi dapat melanjutkan kalimat, aku lemah.
“Sonya..” Adit seperti kaget melihatku yang tiba-tiba
berada di belakangnya, memergokinya membelai rambut wanita itu.
“Kenapa?
Kamu kaget?” tukasku cekat ditemani dengan air mata yang menyembur, hingga
pipiku dilewati bulir-bulir halus, menderas.
“Kamu,
kamu ngapain disini Sonya? Harusnya kan kamu lagi nemenin Mama?”
“Ngapain?
Aku ngapain disini? Aku harusnya nemenin Mama kamu, dan kamu nemenin dia
disini? Iya?” Emosi yang menyergap nalarku tak dapat lagi kukendalikan.
Tatapanku mengepung gelagat mereka berdua. Wanita itu tersenyum picik layaknya
pelacur yang berhasil merebut suami orang.
“Bukan
itu maksud aku.” Adit menanggapi kata-kataku dengan gugup dan serba salah. Lalu
ia menoleh ke arah Panji yang sudah bersandar di belakang mobilnya. “Hey, kamu
sama siapa? Oh dia, dia laki-laki pilihan Ayah kamu. Dan sekarang jadi pilihan
kamu juga? Hahaha” Tawanya memboikot negeri antah berantah bernama hati ini,
membuatnya semakin tercekat, pilu.
“Aku
belum milih dia, aku masih mempertahankan kamu. Tadi dia tiba-tiba datang dan
ngajak aku pulang disuruh Ayah, aku enggak bisa nolak.” Lihatlah, aku masih
mencoba menjelaskan yang sudah tak perlu kujelaskan.
“Haha
omong kosong. Kamu suka juga kan sama dia?”
“Ini
cara kamu menutupi kesalahan? Ini cara kamu pertahanin aku?” Ada kecewa yang
datang saat ia tak lagi peduli yang kurasakan, apa aku yang terlalu perasa?
Kupikir bukan, sakit yang amat itu wajar dirasakan ketika bahkan orang yang kau
cintai tak berniat mengusap air matamu.
Panji
bersuara dengan lantang, kurasa getaran molekul udara itu menyambar ke arahku,
meskipun Panji berteriak pada Adit.
“Kalau
lo sayang sama Sonya, lo ga akan nutupin kesalahan lo dengan mojokin dia di
saat kaya gini.” Tatapan itu, Panji menatap Adit murka.
“Oh,
elo yang dipilih bokap Sonya? Lo mau dia? Ambil!” Adit.....
Satu
biji anak amunisi yang entah berasal dari mana meledak di bagian hati
terdalamku, tepat di sarang asmara yang kusebut cinta. Ada yang berhenti
bernafas di dalam sini, kembang kempis yang melemah namun tak bisa mati, cinta
untuk seseorang yang menemanimu sampai berkali-kali tahun berganti, dengan
sempurna bak malaikat.
Tiba-tiba
tonjokan Panji mendarat di muka Adit dengan keras, ledakan anak amunisi tadi
semakin ketar-ketir. Aku tak tahu apa yang kurasakan. Bumi yag kuinjak seperti
berputar, hentakan kaki yang tak lagi seimbang. Tatapanku mengabur dan hanya
menangkap suara dengan samar-samar, mereka berkelahi. Mereka, Adit dan Panji.
Hanya
satu kalimat Panji yang kudengar meski samar-samar “Sonya mati-matian nolak gua
cuma buat pertahanin cowok brengsek kaya lo!” Ia merangkul pundakku, memapahku
masuk lagi ke dalam mobil.
Sejak
tadi kami saling diam, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Panji dengan
amarahnya, dan aku, dengan rasa sakitku.
Dalam
hening yang ditinggal riang, muncul harapanku setelah amarahnya. Meski ada
kata-kata yang tak terungkap sejak kutahu kekasihku tak peduli, perih yang
terpenjara dan tak tersampaikan.

0 komentar:
Posting Komentar