“Ini buatmu, ini aku” suara samar-samar yang kudengar dari ujung
barat tempatku duduk sekarang ini, keduanya riang saling menghibur saling
berbagi coklat, aku yakin mereka bebagi coklat karena mulut mereka belepotan.
Romantis, ah yang benar saja tapi, aku yakin mereka masih duduk di bangku TK
Nol kecil.
“Indah sekali jadi mereka” suara yang hanya kudengar sendiridalam
hati kian menjadikan sepi. Ingin rasanya kembali menjadi anak kecil seperti
mereka, tertawa semaunya menangis seadanya. Benar kata Om Mario Teguh ”Mainan
yang patah lebih baik daripada hati yang patah.”. Karena ketika hatimu yang
patah, seluruh sendi-sendi yang menempel pada jaringan dalam tubuhmu akan ikut
lunglai, lelah dalam resah.
Hampir dua minggu aku sering ke tempat ini, duduk diam di sebuah
kursi berwarna putih yang panjangnya
hampir dua meter, di balik bongkahan besar rindang bernama pohon.
***
Wajah tampan yang sering ku jumpai dalam tegang, baru saja kusentuh
siluetnya. Jantungku tak berhenti berdetak, tapi kembang-kempisnya menjadi
sungkan. Reaksi yang semacamnya sering kubawa hingga malam, memanen banyak
pertanyaan pengantar tidur, mencuat dengan cerdik dan kemudian ku akhiri dengan
kantuk.
“Kamu enggak mau ke kantin, Arin?” Maura menepuk pundakku berbicara
dengan suara khas Sundanya, ia menormalkan kembali irama jantungku.
“Ah iya, mau kok, yuk.” Kutengok Maura dengan setengah kaget.
Menyunggingkan senyum setengah mau dan tak mau.
Kami berjalan melewati lorong sekolah yang pada jam-jam istirahat
seperti sekarang ini pasti penuh dengan siswa-siswa lain, yang beberapa di
antara mereka menyapa kami, tepatnya menyapa Maura, si mojang Bandung yang
wajahnya polos dan ramah. Berbeda denganku yang lebih dikenal cuek. Tak pernah
berbasa-basi, aku hanya bicara semauku. Mungkin karena sedari kecil aku
terbiasa tinggal di kota metropolitan yang notabene lingkungan sekitarku sudah
terbiasa untuk hidup masing-masing.
“Kamu mikirin apa sih, Rin? Dari pagi aku lihat bengong terus. Kak Panji
ya?”
“Panji?”
“Iya, Kak Panji.”
“Ah enggak, sok tahu.” Aku mengacuh menjawabnya santai.
“Tapi aku tau kok.” Ia menimpalkan jawaban dengan yakinnya.
“Dari?” Maura terlalu tak tahu apa-apa tentang pikiranku, pikirku.
“Sejak Panji pindah ke sekolah ini, aku teh sering lihat
kamu lagi perhatiin Panji.”
“Hahahaha masa? Berarti kamu kali perhatiin Panji?”
Aku memperhatikan Panji? Yang benar saja. Yang kutahu, aku hanya
menangkap basah tubuhnya lalu berpaling dan deg-degan. Aku tidak
berlama-lama melihatnya apalagi memperhatikannya.
“Tuh Panji, Rin.”
Reflek kutengok arah yang ditunjuk Maura, pada sebuah kursi di
pojok meja milik tukang gado-gado di kantin sekolah. Di pojokan sana Panji sedang
bercanda bersama teman-temannya. Ia menengok ke arah lorong jalan menuju kantin
tempat kami melintas saat ini, menunduk, tersenyum dan kembali bicara pada
teman-temannya. Jantungku kembang-kempis (lagi).
“Udah atuh Rin, ngaku aja. Kamu enggak mau cerita emangnya?”
“Apa sih Maur? Gue biasa aja kok sama Panji.” Aku tak ingin Maura
tahu tentang hal tak biasa yang kurasakan pada Panji. Karena Sepenglihatanku, Maura
menyukai Panji, seperti ia pernah menyukai Taufan.
Kubiarkan Maura bertanya-tanya hingga mulutnya berbusa, aku enggan
mengatakan apapun tentang ini. Hal-hal semacam ini masih membuatku sendiri tak
habis pikir.
***
Sampai bintik-bintik gerimis membentuk lingkaran yang semakin besar
dan membuyar di atas danau. Dua anak riang itu akhirnya berlari memburu saung
di dekat pagar bambu yang ujung-ujungnya mulai keropos.
“Sedang apa Taufan saat ini?”. Aku kembali memikir-mikirkan sesuatu
yang seharusnya kulupakan. Mengingat Maura yang dulu pernah diam-diam menyukai
Taufan. Kesal harus lagi-lagi mencintai orang yang sama dengan Maura.
Taufan adalah pacarku dari setahun lalu, dari kelas satu SMA. Aku sering
menceritakan Taufan pada Maura, dulu. Tapi tidak lagi, semenjak tak sengaja
kulihat Maura menangis di kamar mandi sekolah dan menyebut nama Taufan dengan
lirih setelah kurang lebih satu bulan aku dan Taufan jadian.
***
“Arini, jam segini lo belum tidur?”
Tiba-tiba Andri kakakku membuka pintu kamar menyaksikanku jam satu malam masih
memainkan komputer di dalam kamar.
Sigap kututup jendela browser yang
menampilkan timeline Panji, page twitter yang sering kubuka setiap malam.
“Belum ngantuk bang, sebentar lagi paling gue tidur. Ngapain lo kesini?”
“Nyari ipod gue yang tadi sore lo
pinjem.”
“Tuh di atas bantal biru.”
“Tidur lo anak kecil, atau malam
tahun baru lo enggak boleh keluyuran.”
“Iya anak tua.” Sahutku sambil
mendorongnya keluar dari kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
Kembali kubuka jendela browser yang
kututup dengan sigap tadi, kuperhatikan lagi wajah tampan itu dalam kolom
avatar yang sering menyergapku semaunya.
Setiap tweet yang ia buat tak jauh
dari seputar bola, F1 dan GP. Tapi malam ini ada satu yang berbeda, bukan
seperti yang biasa kutemukan di halaman ini.
“A pair of beautifull eyes a
girl, making like stuck in the strong winds.”
Ah rasa tak karuhan membaca
tulisannya. Berbagai kemungkinan menghantamku dengan semua alasan-alasannya. Menerka-nerka
maksud dari yang ia katakan, entahlah ini hanya akan membuatku seribu kali
lebih gede rasa. Tapi apa-apaan maksudnya gede rasa ini? Shit.
***
Pesta malam tahun baru yang diadakan
para tim kreatif anggota OSIS di sekolah cukup meriah, Taufan salah satu orang
di dalamnya. Ia berperan aktif dalam organisasi siswa itu, menghabiskan
seharian waktu di dalamnya, setiap hari. Dan aku selalu setia menunggunya
sampai sore.
“Kamu tunggu disini ya sama Maura?
Aku mau mastiin semuanya lancar malam ini.” Ia mengucapkannya sambil mengusap
rambutku, tepatnya mengacak-acak. Suara Taufan setengah berteriak, maklum
tempat ini berisik dengan suara hentakan drum dari atas panggung.
“Iya Fan, Arini pasti aku jaga
baik-baik dan kamu kembali masih dalam keadaan utuh.” Maura menjawab perkataan
Taufan sambil terkekeh, mojang Bandung ini seperti terlihat sangat bersemangat
malam ini, wajahnya ceria. Ia tak pernah sedikitpun menunjukkan cemburunya
karena Taufan padaku, itu yang membuatku agak kesal padanya. Ia terlalu baik.
Aku menimpali dengan tawa,
sebenarnya ini tidak lucu, sekedar menghargai percakapan mereka. Nampaknya
Maura memang sudah tak lagi menangis untuk Taufan. Harusnya aku senang bukan?
Tapi ini tidak, aku justru cemas karena aku yakin Maura bisa seperti sekarang
ini karena cinta baru yang tumbuh di hatinya, dia mencintai Panji.
“Arin, Panji keren ya mainnya.”
Maura setengah tertawa dan tak melepas pandangannya dari pria yang memukul drum
dengan stick di tangannya itu di atas panggung.
“Iya lumayan lah.” Sahutku dengan
semakin heran apa sebenarnya pikiran-pikiran liar dalam otakku ini. Dia
benar-benar menyukai Panji.
***
“enam, lima, empat, tiga, duaaaaa,
satuuuu”
Tiupan terompet pertama disambut
dengan warna-warni kembang api seperti air yang disiramkan ke angkasa. Hijau,
merah, kuning saling berdatangan dari setiap sudut kota Bandung, pemandangan malam
di langit Bandung saat ini sangat indah. Sorak gembira hampir menghabisi ruang
suara lain untuk terdengar. Setiap orang memberi ucapan selamat tahun baru.
“Selamat tahun baru, Ariiiin.” Maura
memelukku dan dilanjutkan dengan memeluk teman-teman lainnya.
“Happy new year too, Maura.” Aku
membalas pelukannya, kami semua bersenang-senang malam ini. Menikmati pesta
tahun baru.
Seorang lelaki dengan jacket berwarna
creamy smooth mendadak ada dihadapanku berdiri dengan tegak. Senyumnya
menelusup melewati kornea milikku. “Happy new year Maura, Arini.”
Maura tersenyum dibuat sangat manis
menyambut kedatangan dan ucapan Panji. “Selamat tahun baru juga Kak Panji.” Ada
cinta di matanya yang berbinar, tak ada satu pun yang bisa lebih jujur dari
sorotan mata manusia. Pada tatapan, setiap jiwa mengungkapkan perasaannya
dengan lembut dan tak mengganggu.
“Yeah, happy new year too Ji.”
Kubalas ucapannya dengan amat kubuat seperti mengabaikan, menatapnya dengan
sekilas. Kuharap kali ini tatapanku tak
akan jujur seperti kodratnya.
Panji berlalu meninggalkan kami
berdua, setelah sebelumnya aku menangkap raut yang tak bisa kudeskripsikan
maksudnya. Kali ini aku tak ingin mereka-reka apapun kemungkinan yang mungkin
saja benar, mungkin saja ia sedang sangat kelelahan.
***
Taufan tenggelam dengan kesibukannya, sudah jam setengah dua ia
belum juga kembali dari urusannya. Maura sudah pulang dijemput ayahnya.
Sedangkan aku masih menunggu Taufan di koridor depan ruang kelas 1B,
lampu-lampu pesta masih berkelip-kelip, mungkin belum ada yang sempat
mematikannya. Beberapa anak OSIS yang lewat tak tahu setiap kutanya dimana
Taufan.
Berkali-kali Andri menelepon, mungkin ia khawatir dengan adik
satu-satunya ini. Tapi aku tak menghiraukannya, aku sibuk menekan tombol “dial”
pada kontak Taufan, sialnya teleponku juga tak dihiraukannya.
Setengah jam berlalu, aku masih setia mondar-mandir setrikaan
menunggu Taufan. Suasana sedikit demi sedikit semakin sepi. Tinggal beberapa
saja yang lalu lalang di hadapanku. Kantuk dan bosan mulai menggerogoti setiap
kutengok jam di tanganku. Aku bergegas berdiri dan berniat mencari Taxi, semoga
ada.
“Arini.” Lelaki berjacket creamy smooth itu berteriak dari
pojok depan pintu kelas 1E. Sedikit berlari menghampiriku.
“Apa?”
“Lo sendirian aja?”
“Mungkin.” Aku menjawab setengah putus asa.
“Taufan, kemana?”
“Gak tahu, katanya cuma mau cek kesiapan acara dari tahun kemarin.”
“Hahaha, bisa ya lo nunggu dia sampe setahun.” Panji tertawa seolah
aku ini badut yang telah berkata tolol, mungkin baginya ini lucu. Tapi bagiku,
ini deg-degan. Mununggu Taufan sampai kesal dan tiba-tiba lelaki yang
diam-diam bayangnya sering kucuri dengan lancang dalam pikiran liarku ini
datang.
“Lucu ya?” ah shit, aku ketus lagi padanya. Aku tak pernah bisa
seperti Maura yang selalu sangat manis dihadapannya. Tunggu dulu, kenapa aku
ingin menjadi manis di matanya? Shit.
“Sorry” Ia berhenti tertawa, mungkin ia mengerti aku sedang tak
ingin diajaknya bercanda. “Maura mana?” Maura? Jadi dia kemari untuk mencari
Maura?
“Pulang.”
“Oh, pulang kemana dia?”
“Ke rumahnyalah. Kemana lagi? Ke rumah lo?” ini bukan ketus yang
biasa kutukaskan padanya, yang selalu kubuat acuh diriku seperti tak peduli. Kali
ini aku marah karena Panji seperti sangat ingin tahu tentang Maura, perasaan
yang kuhindari kepastiannya dan kali ini aku tak dapat mengelak bahwa aku
cemburu. Dan parahnya, cemburu adalah tanda cinta. Aku mencintai Panji dalam
pelukan Taufan.
Panji mendekat, sangat dekat. Gilanya jantungku tak lagi kembang
kempis. Bahkan lebih parah kali ini, berhenti berdetak. Ia menatapku dengan
tajam, aku mengerti arti tatapannya. Ia seperti keheranan dengan sikapku. “Lo
kenapa sih Rin? Setiap ngomong sama gue enggak pernah ada manis-manisnya.”
Kenapa? Kenapa bagaimana? Aku tak pernah berpikir akan masuk ke
dalam percakapan seperti ini. Mengapa harus ada pertanyaan macam itu yang
berasal dari dirinya. Dan aku kelu, tak tahu mau menjawab apa. Tak mungkin
kukatakan perasaan yang baru saja kusadari kebenarannya. Ketahuilah tampan, aku
merasa bodoh dengan semua ini, kehadiranmu disini seperti menabur benih diatas
sawah yang ditumbuhi padi.
“Kenapa apanya? Perasaan lo aja kali. Nggak usah nanya yang
aneh-aneh deh.” Tukasku kekeh tak mau merendahkan suara sedikitpun,
masih dengan angkuh yang sekuat tenaga kubuat menutupi hati yang ranum di
padang gelisah.
“Oke, mungkin gue yang terlalu gede rasa sama lo.”
Gede rasa? Apa lagi maksudnya ia membawa-bawa hal naif bernama rasa
dihadapanku. Ada apa dengan tatapanku? Ah, sudah kukatakan mata memiliki cara
yang jauh lebih lembut untuk menyampaikan apa yang sedang dirasakan oleh pemilik
hati. Saat aku belum menyadari apapun yang sedang kurasakan, ia menyampaikannya
diam-diam dengan lancang.
“Gede rasa? Maksud lo?”
“Nothing, sorry gue terlalu naif. Gue hampir lupa lo punya Taufan,
mana mungkin haha.” Kerlingannya terjadi begitu saja, ada tawa yang di dalamnya
terselip kecewa. Kecewa yang ingin kupeluk detik ini juga, biar lenyap dalam
dekapku dan dia bahagia.
Diamku sesak. Aku memandangnya lekat, ingin mengatakan bahwa baru
saja aku pun sadar aku mencintainya. Tapi, bagaimana dengan Taufan? Maura?
Lalu bagaimana denganku jika tak mengatakannya, aku akan sangat
menyesal. Kenapa kau harus datang saat ini? Mengajakku masuk ke dalam
lingkaranmu, sementara lingkaranku beririsan dengan lingkaran Taufan. Panji,
ini sangat sulit. Percayalah.
Aku berkaca-kaca dalam hening, kami saling diam dalam jarak yang
begitu dekat. Aku yakin, Panji mengerti benar apa yang kupikirkan dan kurasakan
saat ini. Lagi-lagi mataku membuatnya mengerti.
Tiba-tiba Panji memegang lenganku gugup, tapi kemudian genggamnya
semakin erat. Aku mengerti maksudnya, ia sedang meyakinkanku tentang hal yang
menyulitkan ini. Ia semakin dekat, nafas kami saling menyapa. Ia mendaratkan
kecupan di bibirku, kusandarkan kepalaku di atas dada bidangnya. Kami
berpelukan.
“Aku menunggu kesempatan, tapi tidak pernah ada. Menunggumu
sendiri, tapi belum juga. Aku tak ingin menunggu lagi Arini, aku mencintaimu.”
Ia mengucapkannya dengan lembut diatas kepalaku yang saat ini ia usap, penuh
cinta.
“Aku juga mencintaimu, Panji.”
Panji mengangkat kepalaku dari dada bidangnya, ia menggenggam
lengan atasku. Mendaratkan kecupannya kembali di keningku. “Sudah malam, kamu
pulang ya sekarang. Biar aku antar.”
Aku tak bisa berkata apa-apa, yang aku tahu saat ini ada bahagia.
Ada lega yang kutemukan ketika kami berpelukan, ada resah yang lepas ketika aku
bersandar di dadanya. Aku hanya mengangguk menatapnya dan tersenyum. Tapi, ada
sesak yang meluncur masuk bak anak panah, pria di ujung sana beberapa
meter dariku dan Panji, mengoyak bahagia dan lega yang kupunya. Tatapannya
geram, ia menyemburkan kecewa lewat gerimis kecil yang terjadi di wajahnya. Ya
tuhan, Taufan melihat semua ini, aku menyakitinya.
“Taufan, aku bisa jelasin semuanya.” Teriakku.
Ia berjalan meninggalkan kami berdua, aku ingin mengejar Taufan.
Tapi Panji memegang erat tanganku, dan bukan pegangan tangannya yang membuatku
mematung seperti ini. Tapi tatapannya yang penuh harap, aku tak bisa menolak.
Panji menenangkanku, ia hanya menenangkanku dengan tatapan dan
pelukannya saja. Itu sudah lebih dari cukup. Walau ada resah yang mengoyak,
tapi disini nyaman.
“rrrrdddddd” tiba-tiba benda kecil bernama handphone di saku
milikku bergetar. Aku melepas pelukan Panji dan membuka pesan yang masuk. Pesan
dari unknown number, tak aku kenal nomornya.
“Rin lo dimana? Ini gue Bintang. Taufan kecelakaan sekarang on
the way Hasan Sadikin.”
***
Kulihat pelupuk barat, matahari
mulai lelah menari dengan siang. Ia mulai turun pelan, lunglai. Dua anak kecil
tadi sudah pulang, kuyakin mereka akan dimarahi ibu mereka karena pulang sesore
ini.
Aku pun ingin pulang, hampir delapan jam aku berdiam disini. Berdiam
diri setiap hari merindukannya. Mengingat-ingat betapa ia mencintaiku, aku tak
bisa lagi menahan rindu ini Tuhan.
Ada sesal yang sesak dan lebih dari koyakan yang menghabisi bahagia
yang kupunya. Aku ingin meneleponnya mengirimi ia pesan singkat menyampaikan rindu
yang menyusahkan putaran jarum pada jam di tanganku.
Seandainya mampu kuputar kembali sang waktu. Malam itu aku akan
ikut pulang dengan ayah Maura, dan Taufan tak akan pernah melihatku sangat
bahagia dalam pelukan Panji. Akan kuhindari segala hal yang membuatku
menyakitinya, terlebih sedalam ini.
Kau tahu? Saat itu mungkin aku hanya jenuh denganmu. Tapi jenuhku
tak menghentikan cinta. Ketika ia datang menanam benih baru dalam hatiku, tapi
padimu masih tumbuh subur di sana. Kau tahu saat ini? Aku setengah gila karena
sesal. Aku merindukanmu, Taufan. Aku ingin ikut denganmu, berbaring memelukmu
di bawah nisan itu.
***



