A homepage subtitle here And an awesome description here!

Senin, 17 Juni 2013

14 Harimu


“Ini buatmu, ini aku” suara samar-samar yang kudengar dari ujung barat tempatku duduk sekarang ini, keduanya riang saling menghibur saling berbagi coklat, aku yakin mereka bebagi coklat karena mulut mereka belepotan. Romantis, ah yang benar saja tapi, aku yakin mereka masih duduk di bangku TK Nol kecil.
“Indah sekali jadi mereka” suara yang hanya kudengar sendiridalam hati kian menjadikan sepi. Ingin rasanya kembali menjadi anak kecil seperti mereka, tertawa semaunya menangis seadanya. Benar kata Om Mario Teguh ”Mainan yang patah lebih baik daripada hati yang patah.”. Karena ketika hatimu yang patah, seluruh sendi-sendi yang menempel pada jaringan dalam tubuhmu akan ikut lunglai, lelah dalam resah.
Hampir dua minggu aku sering ke tempat ini, duduk diam di sebuah kursi  berwarna putih yang panjangnya hampir dua meter, di balik bongkahan besar rindang bernama pohon.
***
Wajah tampan yang sering ku jumpai dalam tegang, baru saja kusentuh siluetnya. Jantungku tak berhenti berdetak, tapi kembang-kempisnya menjadi sungkan. Reaksi yang semacamnya sering kubawa hingga malam, memanen banyak pertanyaan pengantar tidur, mencuat dengan cerdik dan kemudian ku akhiri dengan kantuk.
“Kamu enggak mau ke kantin, Arin?” Maura menepuk pundakku berbicara dengan suara khas Sundanya, ia menormalkan kembali irama jantungku.
“Ah iya, mau kok, yuk.” Kutengok Maura dengan setengah kaget. Menyunggingkan senyum setengah mau dan tak mau.
Kami berjalan melewati lorong sekolah yang pada jam-jam istirahat seperti sekarang ini pasti penuh dengan siswa-siswa lain, yang beberapa di antara mereka menyapa kami, tepatnya menyapa Maura, si mojang Bandung yang wajahnya polos dan ramah. Berbeda denganku yang lebih dikenal cuek. Tak pernah berbasa-basi, aku hanya bicara semauku. Mungkin karena sedari kecil aku terbiasa tinggal di kota metropolitan yang notabene lingkungan sekitarku sudah terbiasa untuk hidup masing-masing.
“Kamu mikirin apa sih, Rin? Dari pagi aku lihat bengong terus. Kak Panji ya?”
“Panji?”
“Iya, Kak Panji.”
“Ah enggak, sok tahu.” Aku mengacuh menjawabnya santai.
“Tapi aku tau kok.” Ia menimpalkan jawaban dengan yakinnya.
“Dari?” Maura terlalu tak tahu apa-apa tentang pikiranku, pikirku.
“Sejak Panji pindah ke sekolah ini, aku teh sering lihat kamu lagi perhatiin Panji.”
“Hahahaha masa? Berarti kamu kali perhatiin Panji?”
Aku memperhatikan Panji? Yang benar saja. Yang kutahu, aku hanya menangkap basah tubuhnya lalu berpaling dan deg-degan. Aku tidak berlama-lama melihatnya apalagi memperhatikannya.
“Tuh Panji, Rin.”
Reflek kutengok arah yang ditunjuk Maura, pada sebuah kursi di pojok meja milik tukang gado-gado di kantin sekolah. Di pojokan sana Panji sedang bercanda bersama teman-temannya. Ia menengok ke arah lorong jalan menuju kantin tempat kami melintas saat ini, menunduk, tersenyum dan kembali bicara pada teman-temannya. Jantungku kembang-kempis (lagi).
“Udah atuh Rin, ngaku aja. Kamu enggak mau cerita emangnya?”
“Apa sih Maur? Gue biasa aja kok sama Panji.” Aku tak ingin Maura tahu tentang hal tak biasa yang kurasakan pada Panji. Karena Sepenglihatanku, Maura menyukai Panji, seperti ia pernah menyukai Taufan.
Kubiarkan Maura bertanya-tanya hingga mulutnya berbusa, aku enggan mengatakan apapun tentang ini. Hal-hal semacam ini masih membuatku sendiri tak habis pikir.
***
Sampai bintik-bintik gerimis membentuk lingkaran yang semakin besar dan membuyar di atas danau. Dua anak riang itu akhirnya berlari memburu saung di dekat pagar bambu yang ujung-ujungnya mulai keropos.
“Sedang apa Taufan saat ini?”. Aku kembali memikir-mikirkan sesuatu yang seharusnya kulupakan. Mengingat Maura yang dulu pernah diam-diam menyukai Taufan. Kesal harus lagi-lagi mencintai orang yang sama dengan Maura.
Taufan adalah pacarku dari setahun lalu, dari kelas satu SMA. Aku sering menceritakan Taufan pada Maura, dulu. Tapi tidak lagi, semenjak tak sengaja kulihat Maura menangis di kamar mandi sekolah dan menyebut nama Taufan dengan lirih setelah kurang lebih satu bulan aku dan Taufan jadian.
***
            “Arini, jam segini lo belum tidur?” Tiba-tiba Andri kakakku membuka pintu kamar menyaksikanku jam satu malam masih memainkan komputer di dalam kamar.
            Sigap kututup jendela browser yang menampilkan timeline Panji, page twitter yang sering kubuka setiap malam. “Belum ngantuk bang, sebentar lagi paling gue tidur. Ngapain lo kesini?”
            “Nyari ipod gue yang tadi sore lo pinjem.”
            “Tuh di atas bantal biru.”
            “Tidur lo anak kecil, atau malam tahun baru lo enggak boleh keluyuran.”
            “Iya anak tua.” Sahutku sambil mendorongnya keluar dari kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
            Kembali kubuka jendela browser yang kututup dengan sigap tadi, kuperhatikan lagi wajah tampan itu dalam kolom avatar yang sering menyergapku semaunya.
            Setiap tweet yang ia buat tak jauh dari seputar bola, F1 dan GP. Tapi malam ini ada satu yang berbeda, bukan seperti yang biasa kutemukan di halaman ini.
            “A pair of beautifull eyes a girl, making like stuck in the strong winds.
            Ah rasa tak karuhan membaca tulisannya. Berbagai kemungkinan menghantamku dengan semua alasan-alasannya. Menerka-nerka maksud dari yang ia katakan, entahlah ini hanya akan membuatku seribu kali lebih gede rasa. Tapi apa-apaan maksudnya gede rasa ini? Shit.
***
            Pesta malam tahun baru yang diadakan para tim kreatif anggota OSIS di sekolah cukup meriah, Taufan salah satu orang di dalamnya. Ia berperan aktif dalam organisasi siswa itu, menghabiskan seharian waktu di dalamnya, setiap hari. Dan aku selalu setia menunggunya sampai sore.
            “Kamu tunggu disini ya sama Maura? Aku mau mastiin semuanya lancar malam ini.” Ia mengucapkannya sambil mengusap rambutku, tepatnya mengacak-acak. Suara Taufan setengah berteriak, maklum tempat ini berisik dengan suara hentakan drum dari atas panggung.
            “Iya Fan, Arini pasti aku jaga baik-baik dan kamu kembali masih dalam keadaan utuh.” Maura menjawab perkataan Taufan sambil terkekeh, mojang Bandung ini seperti terlihat sangat bersemangat malam ini, wajahnya ceria. Ia tak pernah sedikitpun menunjukkan cemburunya karena Taufan padaku, itu yang membuatku agak kesal padanya. Ia terlalu baik.
            Aku menimpali dengan tawa, sebenarnya ini tidak lucu, sekedar menghargai percakapan mereka. Nampaknya Maura memang sudah tak lagi menangis untuk Taufan. Harusnya aku senang bukan? Tapi ini tidak, aku justru cemas karena aku yakin Maura bisa seperti sekarang ini karena cinta baru yang tumbuh di hatinya, dia mencintai Panji.
            “Arin, Panji keren ya mainnya.” Maura setengah tertawa dan tak melepas pandangannya dari pria yang memukul drum dengan stick di tangannya itu di atas panggung.
            “Iya lumayan lah.” Sahutku dengan semakin heran apa sebenarnya pikiran-pikiran liar dalam otakku ini. Dia benar-benar menyukai Panji.
***
            “enam, lima, empat, tiga, duaaaaa, satuuuu”
            Tiupan terompet pertama disambut dengan warna-warni kembang api seperti air yang disiramkan ke angkasa. Hijau, merah, kuning saling berdatangan dari setiap sudut kota Bandung, pemandangan malam di langit Bandung saat ini sangat indah. Sorak gembira hampir menghabisi ruang suara lain untuk terdengar. Setiap orang memberi ucapan selamat tahun baru.
            “Selamat tahun baru, Ariiiin.” Maura memelukku dan dilanjutkan dengan memeluk teman-teman lainnya.
            “Happy new year too, Maura.” Aku membalas pelukannya, kami semua bersenang-senang malam ini. Menikmati pesta tahun baru.
            Seorang lelaki dengan jacket berwarna creamy smooth mendadak ada dihadapanku berdiri dengan tegak. Senyumnya menelusup melewati kornea milikku. “Happy new year Maura, Arini.”
            Maura tersenyum dibuat sangat manis menyambut kedatangan dan ucapan Panji. “Selamat tahun baru juga Kak Panji.” Ada cinta di matanya yang berbinar, tak ada satu pun yang bisa lebih jujur dari sorotan mata manusia. Pada tatapan, setiap jiwa mengungkapkan perasaannya dengan lembut dan tak mengganggu.
            “Yeah, happy new year too Ji.” Kubalas ucapannya dengan amat kubuat seperti mengabaikan, menatapnya dengan sekilas.  Kuharap kali ini tatapanku tak akan jujur seperti kodratnya.
            Panji berlalu meninggalkan kami berdua, setelah sebelumnya aku menangkap raut yang tak bisa kudeskripsikan maksudnya. Kali ini aku tak ingin mereka-reka apapun kemungkinan yang mungkin saja benar, mungkin saja ia sedang sangat kelelahan.
***
Taufan tenggelam dengan kesibukannya, sudah jam setengah dua ia belum juga kembali dari urusannya. Maura sudah pulang dijemput ayahnya. Sedangkan aku masih menunggu Taufan di koridor depan ruang kelas 1B, lampu-lampu pesta masih berkelip-kelip, mungkin belum ada yang sempat mematikannya. Beberapa anak OSIS yang lewat tak tahu setiap kutanya dimana Taufan.
Berkali-kali Andri menelepon, mungkin ia khawatir dengan adik satu-satunya ini. Tapi aku tak menghiraukannya, aku sibuk menekan tombol “dial” pada kontak Taufan, sialnya teleponku juga tak dihiraukannya.
Setengah jam berlalu, aku masih setia mondar-mandir setrikaan menunggu Taufan. Suasana sedikit demi sedikit semakin sepi. Tinggal beberapa saja yang lalu lalang di hadapanku. Kantuk dan bosan mulai menggerogoti setiap kutengok jam di tanganku. Aku bergegas berdiri dan berniat mencari Taxi, semoga ada.
“Arini.” Lelaki berjacket creamy smooth itu berteriak dari pojok depan pintu kelas 1E. Sedikit berlari menghampiriku.
“Apa?”
“Lo sendirian aja?”
“Mungkin.” Aku menjawab setengah putus asa.
“Taufan, kemana?”
“Gak tahu, katanya cuma mau cek kesiapan acara dari tahun kemarin.”
“Hahaha, bisa ya lo nunggu dia sampe setahun.” Panji tertawa seolah aku ini badut yang telah berkata tolol, mungkin baginya ini lucu. Tapi bagiku, ini deg-degan. Mununggu Taufan sampai kesal dan tiba-tiba lelaki yang diam-diam bayangnya sering kucuri dengan lancang dalam pikiran liarku ini datang.
“Lucu ya?” ah shit, aku ketus lagi padanya. Aku tak pernah bisa seperti Maura yang selalu sangat manis dihadapannya. Tunggu dulu, kenapa aku ingin menjadi manis di matanya? Shit.
“Sorry” Ia berhenti tertawa, mungkin ia mengerti aku sedang tak ingin diajaknya bercanda. “Maura mana?” Maura? Jadi dia kemari untuk mencari Maura?
“Pulang.”
“Oh, pulang kemana dia?”
“Ke rumahnyalah. Kemana lagi? Ke rumah lo?” ini bukan ketus yang biasa kutukaskan padanya, yang selalu kubuat acuh diriku seperti tak peduli. Kali ini aku marah karena Panji seperti sangat ingin tahu tentang Maura, perasaan yang kuhindari kepastiannya dan kali ini aku tak dapat mengelak bahwa aku cemburu. Dan parahnya, cemburu adalah tanda cinta. Aku mencintai Panji dalam pelukan Taufan.
Panji mendekat, sangat dekat. Gilanya jantungku tak lagi kembang kempis. Bahkan lebih parah kali ini, berhenti berdetak. Ia menatapku dengan tajam, aku mengerti arti tatapannya. Ia seperti keheranan dengan sikapku. “Lo kenapa sih Rin? Setiap ngomong sama gue enggak pernah ada manis-manisnya.”
Kenapa? Kenapa bagaimana? Aku tak pernah berpikir akan masuk ke dalam percakapan seperti ini. Mengapa harus ada pertanyaan macam itu yang berasal dari dirinya. Dan aku kelu, tak tahu mau menjawab apa. Tak mungkin kukatakan perasaan yang baru saja kusadari kebenarannya. Ketahuilah tampan, aku merasa bodoh dengan semua ini, kehadiranmu disini seperti menabur benih diatas sawah yang ditumbuhi padi.
“Kenapa apanya? Perasaan lo aja kali. Nggak usah nanya yang aneh-aneh deh.” Tukasku kekeh tak mau merendahkan suara sedikitpun, masih dengan angkuh yang sekuat tenaga kubuat menutupi hati yang ranum di padang gelisah.
“Oke, mungkin gue yang terlalu gede rasa sama lo.”
Gede rasa? Apa lagi maksudnya ia membawa-bawa hal naif bernama rasa dihadapanku. Ada apa dengan tatapanku? Ah, sudah kukatakan mata memiliki cara yang jauh lebih lembut untuk menyampaikan apa yang sedang dirasakan oleh pemilik hati. Saat aku belum menyadari apapun yang sedang kurasakan, ia menyampaikannya diam-diam dengan lancang.
“Gede rasa? Maksud lo?”
“Nothing, sorry gue terlalu naif. Gue hampir lupa lo punya Taufan, mana mungkin haha.” Kerlingannya terjadi begitu saja, ada tawa yang di dalamnya terselip kecewa. Kecewa yang ingin kupeluk detik ini juga, biar lenyap dalam dekapku dan dia bahagia.
Diamku sesak. Aku memandangnya lekat, ingin mengatakan bahwa baru saja aku pun sadar aku mencintainya. Tapi, bagaimana dengan Taufan? Maura?
Lalu bagaimana denganku jika tak mengatakannya, aku akan sangat menyesal. Kenapa kau harus datang saat ini? Mengajakku masuk ke dalam lingkaranmu, sementara lingkaranku beririsan dengan lingkaran Taufan. Panji, ini sangat sulit. Percayalah.
Aku berkaca-kaca dalam hening, kami saling diam dalam jarak yang begitu dekat. Aku yakin, Panji mengerti benar apa yang kupikirkan dan kurasakan saat ini. Lagi-lagi mataku membuatnya mengerti.
Tiba-tiba Panji memegang lenganku gugup, tapi kemudian genggamnya semakin erat. Aku mengerti maksudnya, ia sedang meyakinkanku tentang hal yang menyulitkan ini. Ia semakin dekat, nafas kami saling menyapa. Ia mendaratkan kecupan di bibirku, kusandarkan kepalaku di atas dada bidangnya. Kami berpelukan.
“Aku menunggu kesempatan, tapi tidak pernah ada. Menunggumu sendiri, tapi belum juga. Aku tak ingin menunggu lagi Arini, aku mencintaimu.” Ia mengucapkannya dengan lembut diatas kepalaku yang saat ini ia usap, penuh cinta.
“Aku juga mencintaimu, Panji.”
Panji mengangkat kepalaku dari dada bidangnya, ia menggenggam lengan atasku. Mendaratkan kecupannya kembali di keningku. “Sudah malam, kamu pulang ya sekarang. Biar aku antar.”
Aku tak bisa berkata apa-apa, yang aku tahu saat ini ada bahagia. Ada lega yang kutemukan ketika kami berpelukan, ada resah yang lepas ketika aku bersandar di dadanya. Aku hanya mengangguk menatapnya dan tersenyum. Tapi, ada sesak yang meluncur masuk bak anak panah, pria di ujung sana beberapa meter dariku dan Panji, mengoyak bahagia dan lega yang kupunya. Tatapannya geram, ia menyemburkan kecewa lewat gerimis kecil yang terjadi di wajahnya. Ya tuhan, Taufan melihat semua ini, aku menyakitinya.
“Taufan, aku bisa jelasin semuanya.” Teriakku.
Ia berjalan meninggalkan kami berdua, aku ingin mengejar Taufan. Tapi Panji memegang erat tanganku, dan bukan pegangan tangannya yang membuatku mematung seperti ini. Tapi tatapannya yang penuh harap, aku tak bisa menolak.
Panji menenangkanku, ia hanya menenangkanku dengan tatapan dan pelukannya saja. Itu sudah lebih dari cukup. Walau ada resah yang mengoyak, tapi disini nyaman.
“rrrrdddddd” tiba-tiba benda kecil bernama handphone di saku milikku bergetar. Aku melepas pelukan Panji dan membuka pesan yang masuk. Pesan dari unknown number, tak aku kenal nomornya.
“Rin lo dimana? Ini gue Bintang. Taufan kecelakaan sekarang on the way Hasan Sadikin.”
***
            Kulihat pelupuk barat, matahari mulai lelah menari dengan siang. Ia mulai turun pelan, lunglai. Dua anak kecil tadi sudah pulang, kuyakin mereka akan dimarahi ibu mereka karena pulang sesore ini.
Aku pun ingin pulang, hampir delapan jam aku berdiam disini. Berdiam diri setiap hari merindukannya. Mengingat-ingat betapa ia mencintaiku, aku tak bisa lagi menahan rindu ini Tuhan.
Ada sesal yang sesak dan lebih dari koyakan yang menghabisi bahagia yang kupunya. Aku ingin meneleponnya mengirimi ia pesan singkat menyampaikan rindu yang menyusahkan putaran jarum pada jam di tanganku.
Seandainya mampu kuputar kembali sang waktu. Malam itu aku akan ikut pulang dengan ayah Maura, dan Taufan tak akan pernah melihatku sangat bahagia dalam pelukan Panji. Akan kuhindari segala hal yang membuatku menyakitinya, terlebih sedalam ini.

Kau tahu? Saat itu mungkin aku hanya jenuh denganmu. Tapi jenuhku tak menghentikan cinta. Ketika ia datang menanam benih baru dalam hatiku, tapi padimu masih tumbuh subur di sana. Kau tahu saat ini? Aku setengah gila karena sesal. Aku merindukanmu, Taufan. Aku ingin ikut denganmu, berbaring memelukmu di bawah nisan itu.
***