A homepage subtitle here And an awesome description here!

Kamis, 29 Agustus 2013

Ini, Rindu...


            Kupandangi terus gerombolan Merpati di tepi pantai itu, bulu coklat dan putihnya semakin cantik terpapar lembayung senja.
Aku sendirian, menunggu matahari tenggelam ke dalam lautan. Ada gusar yang sempurna menyelinap di balik eksotis warna senja. Aku mencintai desah ombak yang menyapu bibir pantai, meski ia tak pernah menyapu kenangan.
Kenangan dari warna suara yang tak pernah tertukar dalam gelombang. Tentang seseorang yang menarik perhatian dan cinta dalam hitungan detik, tentang seseorang yang pergi tanpa mengucapkan “selamat tinggal”.
***
“Kania, jangan direkam dong.” Ia mendekatiku dan meraih camera yang kupegang. “Kamu suka banget ngerekam?”
“Suka aja.” Jawabku cekikikan, masih sambil mempertahankan camera yang kupegang mempertahankan muka risihnya.
“Kenapa harus suka video, Kania?” Ia masih berusaha meraih camera di tanganku, dan kali ini ia berhasil.
“Karena.. Menurut aku, kalau kita enggak bisa ketemu nanti ya kita bisa langsung lihat videonya.” Aku hampir menjelaskan sebagian perasaanku, ternyata.
“Berarti seandainya kamu enggak bisa ketemu aku lagi, kamu bakal kangen sama aku?” Bola matanya berkumpul di sebelah kiri, mendelik menggodaku.
“Hmm, enggak.. enggak.. bukan itu maksudnya.” Dan aku, gugup.
“Ayo ngaku??”
Seseorang yang berhasil membuatku gugup itu bernama Billy Rahardjo, mahasiswa Teknik yang satu Universitas denganku. Yang ku kenal secara tak sengaja di sebuah jembatan yang menghubungkan fakultas kami, Teksas.
Singkatnya kami berkenalan dan kemudian, bisa disebut kencan. Kencan ketiga aku mulai senang merekamnya. Keempat, kelima, keenam, hingga kencan kesekian yang tak terhitung. Aku masih senang terus merekamnya, hingga ia menghilang.
Billy, aku telah mendayuh dari satu kenangan ke kenangan yang lain, namum di setiap dermaganya ada kau. Bisakah kau berhenti menjadi sekedar kenangan?
***
Bahagia yang ku miliki sempurna lenyap, mungkin ditikam gulungan ombak yang ada di hadapanku saat ini. Meski waktu berjalan melewati dua September, ia tetap tak tergantikan. Suaranya entah mengiang atau mengaung di sekelilingku, Billy tak pernah pergi sejengkal pun dari otakku, Billy Billy dan Billy.
Aku menyandarkan kepala di bahu tegaknya, disini lain. Aku yakin setiap orang memiliki tempat terbaik yang dianggapnya, dan disini tempatku, bahu Billy. “Bil, kalau kita lulus nanti, kamu mau kemana?”
“Aku, belum tahu. Kamu?” Ia tak berekspresi, air wajahnya datar. Aku meliriknya.
“Aku, aku juga belum tahu.”
Hampir empat tahun aku dan Billy menjalin sebuah hubungan, yang tak sadar kapan dimulainya, yang mengalirkan cinta dari detik-detik pertama bertemu hingga aku sadar bahwa aku tak ingin mengakhirinya.
“Billy..”
“Iya, Kania?”
“Sampai kapan kamu di samping aku?”
“....” Ia hanya diam, mengusap rambut kecoklatanku, dan menciumnya.
***
Lautan di ufuk barat itu kini telah melahap sebagian tubuh matahari, senja semakin lembayung. Menabur warna sepi di muka air asin yang menyantapnya. Tahukan ia, resah ini bak irisan belati pada mangsanya.
Baru kemarin rasanya, aku melewati malam dingin berselimutkan sweater Billy, memeluk erat diatas laju kencang sepeda motornya. Ingin ku ulang. Lewat video-video yang ku kumpulkan, aku merindukannya. Lewat senja, ombak dan angin.
***
Hari itu, seandainya dapat kuhapus.
Aku mulai cemas ketika bahkan ia tak dapat menjawab sampai kapan ia ada di sampingku, namun aku tetap diam seolah semua akan baik-baik saja.
“Kania, kamu siap?” pop up SMS muncul di layar handphoneku, pagi ini seharusnya aku bahagia, tapi... sesuatu yang dingin menyelinap ke dalam ruang yang tak ku kenali.
“Hmm, Siap dong Billy J.” Aku membalas pesannya.
Hari ini, sebagian mahasiswa 2007 akan resmi mendapat gelar Sarjana, aku dan Billy adalah dua diantaranya.
Terbayang seorang gadis dengan seragam SMA berkepang dua berjalan melewati panjangnya jalanan trotoar, bertopi penyihir, berpapan nama merah muda dengan tulisan “KANIbAl” ketika aku melewati gedung demi gedung menuju Balairung. Gadis itu aku, empat tahun lalu. Hari ini, aku melewati jalanan ini dengan kebaya coklat creamy, rambutku membentuk bulatan indah bernama konde. Hari ini, aku menjemput gelar sarjanaku.
Perjalanan menuju Balairung menyelimutkan haru, aku sedikit mengenang dan meneteskan air mata.
Billy nampaknya sudah siap menyambut kedatanganku, langkahnya hampir saja bisa disebut lari. Hari ini, ia menatapku dengan cara yang berbeda. Entah karena kebayaku, atau sesuatu yang lain...
“Billy, gimana?” Aku menunjukkan penampilanku pada Billy, dengan senyum yang kuusahakan, entahlah ada sesuatu yang beku, yang ingin kupecahkan.
 “Cantik, Kania. Kamu selalu cantik.” Deretan giginya berjajar memamerkan senyum paling indah sedunia yang ku punya, yang aku sama sekali tak ingin kehilangannya.
Kami memasuki Balairung bersama, Billy menggenggam tanganku. Sedikit atau banyak, Billy memang berbeda hari ini. Ia tak berhenti melihat ke arahku, seolah ia takut kehilangan jejakku.
Beberama menit aku selesai meraih gelar sarjanaku, Billy tersenyum hangat dari pojok sana, tempatnya bersama teman-teman fakultas tekniknya. Ia menatapku dengan berkaca-kaca, aku melihatnya. Ia terharu dan pergi ke toilet untuk memuaskan harunya, pikirku.
Handphoneku bergetar, satu pesan baru dari Billy.
“Selamat Kania, I’ll always love you.”
“Thanks for everything Billy, you too congratulation J. I’ll too.” Aku membalasnya tanpa sedikit pun curiga, seolah memang semua akan baik-baik saja.
Sampai sore tiba, ketika Balairung hampir sepi, aku masih menunggu Billy yang tak kembali sejak kupikir ingin memuaskan haru, aku belum sempat mengambil videonya dengan Toga hari ini. Aku mulai cemas, setelah setiap teleponku berakhir mailbox.
Sejak saat itu, Billy tak pernah kembali.
***
Billy, wajahmu itu mendamaikan, setiap resahku luluh habis dalam dekapmu, aku merindu lagi. Kini tak satu pun tangis yang kau redam, kau tak disini. Aku melahapnya sendirian. Sedikit lagi saja, lautan itu akan menenggelamkan surya tanpa ampun. Seperti kau menenggelamkan rinduku tanpa ampun pula.
Entah salah siapa, sampai saat ini aku belum bisa menghentikan bayangannya. Namun, ia menanam cinta dengan cara terbaiknya di hatiku, hingga berakar rindu sampai ke setiap pembuluh di sekelilingnya, mematikan aku ketika sakau ingin bertemu.
Tapi, pada siapa aku harus menitipkan surat yang berisi deburan rasa yang menghantam-hantam dinding hatiku? Kemana aku harus mengirimka pesan untuk menghabisi sakauku?

Tak ada yang tahu Billy dimana..

Selasa, 09 Juli 2013

Malaikat Baru


Kutangkap rautnya sesaat di tengah nafas yang diburu sesak, kening yang dibalut kulit sawo matang itu berkerut, tatapannya tajam meloncati kaca kendaraan yang ia kemudikan saat ini. Aku  yakin ia sedang bersumpah serapah memaki-maki dalam hatinya, ia seperti ingin menghabisi semua kendaraan yang melintas di hadapan kami. Aku tak begitu peduli, sekalipun ia akan menabrakkan mobil ini sampai hancur berkeping-keping, aku tak peduli. Hatiku remuk.
Aku sibuk dengan bayangan  Adit, yang tidak lagi merasa bersalah ketika air mataku jatuh berhamburan karenanya. Lagi dan lagi episode ter-entah apa namanya itu berputar dalam ingatanku.
“Mas, stop stop.. berhenti sebentar.” Pintaku tergesa-gesa pada Panji, laki-laki yang mengendalikan kendaraan di sampingku ini.
“Kenapa Sonya?” Jawabnya tampak keheranan, tapi ia tetap menginjak rem hingga kami menepi di pinggir jalan di depan Boemi Joglo jalanan Dago.
Pertanyaan Panji berlalu tanpa kujawab, aku masih tergesa-gesa membuka kaca mobil dan masih tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
Benar, pria berkemeja biru muda itu Adit kekasihku. Ia bersama seorang wanita dengan rambut terurai. Aku belum tahu siapa wanita itu, wajahnya masih samar-samar dari jarak yang cukup jauh ini.
Kuputuskan untuk turun dan mendekat selangkah demi selangkah.
Astaga, itu wanita yang pernah merusak hubunganku dengan Adit dua tahun yang lalu, Adit pernah meninggalkanku karenanya. Ada beberapa letupan yang menerka-nerka disini, mungkin seseorang menyebutnya risau.
Aku semakin mendekat dengan mata berkaca-kaca, terkaan-terkaan yang tak bisa kutaklukkan. Langkahku gontai berbaur rasa sakit yang tiba-tiba mencekik, ada sesuatu yang salah disini, sesuatu yang bukan semestinya.
“Dit..” Sapaanku terseret isak, aku tak lagi dapat melanjutkan kalimat, aku lemah.
 “Sonya..” Adit seperti kaget melihatku yang tiba-tiba berada di belakangnya, memergokinya membelai rambut wanita itu.
“Kenapa? Kamu kaget?” tukasku cekat ditemani dengan air mata yang menyembur, hingga pipiku dilewati bulir-bulir halus, menderas.
“Kamu, kamu ngapain disini Sonya? Harusnya kan kamu lagi nemenin Mama?”
“Ngapain? Aku ngapain disini? Aku harusnya nemenin Mama kamu, dan kamu nemenin dia disini? Iya?” Emosi yang menyergap nalarku tak dapat lagi kukendalikan. Tatapanku mengepung gelagat mereka berdua. Wanita itu tersenyum picik layaknya pelacur yang berhasil merebut suami orang.
“Bukan itu maksud aku.” Adit menanggapi kata-kataku dengan gugup dan serba salah. Lalu ia menoleh ke arah Panji yang sudah bersandar di belakang mobilnya. “Hey, kamu sama siapa? Oh dia, dia laki-laki pilihan Ayah kamu. Dan sekarang jadi pilihan kamu juga? Hahaha” Tawanya memboikot negeri antah berantah bernama hati ini, membuatnya semakin tercekat, pilu.
“Aku belum milih dia, aku masih mempertahankan kamu. Tadi dia tiba-tiba datang dan ngajak aku pulang disuruh Ayah, aku enggak bisa nolak.” Lihatlah, aku masih mencoba menjelaskan yang sudah tak perlu kujelaskan.
“Haha omong kosong. Kamu suka juga kan sama dia?”
“Ini cara kamu menutupi kesalahan? Ini cara kamu pertahanin aku?” Ada kecewa yang datang saat ia tak lagi peduli yang kurasakan, apa aku yang terlalu perasa? Kupikir bukan, sakit yang amat itu wajar dirasakan ketika bahkan orang yang kau cintai tak berniat mengusap air matamu.  
Panji bersuara dengan lantang, kurasa getaran molekul udara itu menyambar ke arahku, meskipun Panji berteriak pada Adit.
“Kalau lo sayang sama Sonya, lo ga akan nutupin kesalahan lo dengan mojokin dia di saat kaya gini.” Tatapan itu, Panji menatap Adit murka.
“Oh, elo yang dipilih bokap Sonya? Lo mau dia? Ambil!” Adit.....
Satu biji anak amunisi yang entah berasal dari mana meledak di bagian hati terdalamku, tepat di sarang asmara yang kusebut cinta. Ada yang berhenti bernafas di dalam sini, kembang kempis yang melemah namun tak bisa mati, cinta untuk seseorang yang menemanimu sampai berkali-kali tahun berganti, dengan sempurna bak malaikat.
Tiba-tiba tonjokan Panji mendarat di muka Adit dengan keras, ledakan anak amunisi tadi semakin ketar-ketir. Aku tak tahu apa yang kurasakan. Bumi yag kuinjak seperti berputar, hentakan kaki yang tak lagi seimbang. Tatapanku mengabur dan hanya menangkap suara dengan samar-samar, mereka berkelahi. Mereka, Adit dan Panji.
Hanya satu kalimat Panji yang kudengar meski samar-samar “Sonya mati-matian nolak gua cuma buat pertahanin cowok brengsek kaya lo!” Ia merangkul pundakku, memapahku masuk lagi ke dalam mobil.
Sejak tadi kami saling diam, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Panji dengan amarahnya, dan aku, dengan rasa sakitku.
Dalam hening yang ditinggal riang, muncul harapanku setelah amarahnya. Meski ada kata-kata yang tak terungkap sejak kutahu kekasihku tak peduli, perih yang terpenjara dan tak tersampaikan.



Senin, 17 Juni 2013

14 Harimu


“Ini buatmu, ini aku” suara samar-samar yang kudengar dari ujung barat tempatku duduk sekarang ini, keduanya riang saling menghibur saling berbagi coklat, aku yakin mereka bebagi coklat karena mulut mereka belepotan. Romantis, ah yang benar saja tapi, aku yakin mereka masih duduk di bangku TK Nol kecil.
“Indah sekali jadi mereka” suara yang hanya kudengar sendiridalam hati kian menjadikan sepi. Ingin rasanya kembali menjadi anak kecil seperti mereka, tertawa semaunya menangis seadanya. Benar kata Om Mario Teguh ”Mainan yang patah lebih baik daripada hati yang patah.”. Karena ketika hatimu yang patah, seluruh sendi-sendi yang menempel pada jaringan dalam tubuhmu akan ikut lunglai, lelah dalam resah.
Hampir dua minggu aku sering ke tempat ini, duduk diam di sebuah kursi  berwarna putih yang panjangnya hampir dua meter, di balik bongkahan besar rindang bernama pohon.
***
Wajah tampan yang sering ku jumpai dalam tegang, baru saja kusentuh siluetnya. Jantungku tak berhenti berdetak, tapi kembang-kempisnya menjadi sungkan. Reaksi yang semacamnya sering kubawa hingga malam, memanen banyak pertanyaan pengantar tidur, mencuat dengan cerdik dan kemudian ku akhiri dengan kantuk.
“Kamu enggak mau ke kantin, Arin?” Maura menepuk pundakku berbicara dengan suara khas Sundanya, ia menormalkan kembali irama jantungku.
“Ah iya, mau kok, yuk.” Kutengok Maura dengan setengah kaget. Menyunggingkan senyum setengah mau dan tak mau.
Kami berjalan melewati lorong sekolah yang pada jam-jam istirahat seperti sekarang ini pasti penuh dengan siswa-siswa lain, yang beberapa di antara mereka menyapa kami, tepatnya menyapa Maura, si mojang Bandung yang wajahnya polos dan ramah. Berbeda denganku yang lebih dikenal cuek. Tak pernah berbasa-basi, aku hanya bicara semauku. Mungkin karena sedari kecil aku terbiasa tinggal di kota metropolitan yang notabene lingkungan sekitarku sudah terbiasa untuk hidup masing-masing.
“Kamu mikirin apa sih, Rin? Dari pagi aku lihat bengong terus. Kak Panji ya?”
“Panji?”
“Iya, Kak Panji.”
“Ah enggak, sok tahu.” Aku mengacuh menjawabnya santai.
“Tapi aku tau kok.” Ia menimpalkan jawaban dengan yakinnya.
“Dari?” Maura terlalu tak tahu apa-apa tentang pikiranku, pikirku.
“Sejak Panji pindah ke sekolah ini, aku teh sering lihat kamu lagi perhatiin Panji.”
“Hahahaha masa? Berarti kamu kali perhatiin Panji?”
Aku memperhatikan Panji? Yang benar saja. Yang kutahu, aku hanya menangkap basah tubuhnya lalu berpaling dan deg-degan. Aku tidak berlama-lama melihatnya apalagi memperhatikannya.
“Tuh Panji, Rin.”
Reflek kutengok arah yang ditunjuk Maura, pada sebuah kursi di pojok meja milik tukang gado-gado di kantin sekolah. Di pojokan sana Panji sedang bercanda bersama teman-temannya. Ia menengok ke arah lorong jalan menuju kantin tempat kami melintas saat ini, menunduk, tersenyum dan kembali bicara pada teman-temannya. Jantungku kembang-kempis (lagi).
“Udah atuh Rin, ngaku aja. Kamu enggak mau cerita emangnya?”
“Apa sih Maur? Gue biasa aja kok sama Panji.” Aku tak ingin Maura tahu tentang hal tak biasa yang kurasakan pada Panji. Karena Sepenglihatanku, Maura menyukai Panji, seperti ia pernah menyukai Taufan.
Kubiarkan Maura bertanya-tanya hingga mulutnya berbusa, aku enggan mengatakan apapun tentang ini. Hal-hal semacam ini masih membuatku sendiri tak habis pikir.
***
Sampai bintik-bintik gerimis membentuk lingkaran yang semakin besar dan membuyar di atas danau. Dua anak riang itu akhirnya berlari memburu saung di dekat pagar bambu yang ujung-ujungnya mulai keropos.
“Sedang apa Taufan saat ini?”. Aku kembali memikir-mikirkan sesuatu yang seharusnya kulupakan. Mengingat Maura yang dulu pernah diam-diam menyukai Taufan. Kesal harus lagi-lagi mencintai orang yang sama dengan Maura.
Taufan adalah pacarku dari setahun lalu, dari kelas satu SMA. Aku sering menceritakan Taufan pada Maura, dulu. Tapi tidak lagi, semenjak tak sengaja kulihat Maura menangis di kamar mandi sekolah dan menyebut nama Taufan dengan lirih setelah kurang lebih satu bulan aku dan Taufan jadian.
***
            “Arini, jam segini lo belum tidur?” Tiba-tiba Andri kakakku membuka pintu kamar menyaksikanku jam satu malam masih memainkan komputer di dalam kamar.
            Sigap kututup jendela browser yang menampilkan timeline Panji, page twitter yang sering kubuka setiap malam. “Belum ngantuk bang, sebentar lagi paling gue tidur. Ngapain lo kesini?”
            “Nyari ipod gue yang tadi sore lo pinjem.”
            “Tuh di atas bantal biru.”
            “Tidur lo anak kecil, atau malam tahun baru lo enggak boleh keluyuran.”
            “Iya anak tua.” Sahutku sambil mendorongnya keluar dari kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
            Kembali kubuka jendela browser yang kututup dengan sigap tadi, kuperhatikan lagi wajah tampan itu dalam kolom avatar yang sering menyergapku semaunya.
            Setiap tweet yang ia buat tak jauh dari seputar bola, F1 dan GP. Tapi malam ini ada satu yang berbeda, bukan seperti yang biasa kutemukan di halaman ini.
            “A pair of beautifull eyes a girl, making like stuck in the strong winds.
            Ah rasa tak karuhan membaca tulisannya. Berbagai kemungkinan menghantamku dengan semua alasan-alasannya. Menerka-nerka maksud dari yang ia katakan, entahlah ini hanya akan membuatku seribu kali lebih gede rasa. Tapi apa-apaan maksudnya gede rasa ini? Shit.
***
            Pesta malam tahun baru yang diadakan para tim kreatif anggota OSIS di sekolah cukup meriah, Taufan salah satu orang di dalamnya. Ia berperan aktif dalam organisasi siswa itu, menghabiskan seharian waktu di dalamnya, setiap hari. Dan aku selalu setia menunggunya sampai sore.
            “Kamu tunggu disini ya sama Maura? Aku mau mastiin semuanya lancar malam ini.” Ia mengucapkannya sambil mengusap rambutku, tepatnya mengacak-acak. Suara Taufan setengah berteriak, maklum tempat ini berisik dengan suara hentakan drum dari atas panggung.
            “Iya Fan, Arini pasti aku jaga baik-baik dan kamu kembali masih dalam keadaan utuh.” Maura menjawab perkataan Taufan sambil terkekeh, mojang Bandung ini seperti terlihat sangat bersemangat malam ini, wajahnya ceria. Ia tak pernah sedikitpun menunjukkan cemburunya karena Taufan padaku, itu yang membuatku agak kesal padanya. Ia terlalu baik.
            Aku menimpali dengan tawa, sebenarnya ini tidak lucu, sekedar menghargai percakapan mereka. Nampaknya Maura memang sudah tak lagi menangis untuk Taufan. Harusnya aku senang bukan? Tapi ini tidak, aku justru cemas karena aku yakin Maura bisa seperti sekarang ini karena cinta baru yang tumbuh di hatinya, dia mencintai Panji.
            “Arin, Panji keren ya mainnya.” Maura setengah tertawa dan tak melepas pandangannya dari pria yang memukul drum dengan stick di tangannya itu di atas panggung.
            “Iya lumayan lah.” Sahutku dengan semakin heran apa sebenarnya pikiran-pikiran liar dalam otakku ini. Dia benar-benar menyukai Panji.
***
            “enam, lima, empat, tiga, duaaaaa, satuuuu”
            Tiupan terompet pertama disambut dengan warna-warni kembang api seperti air yang disiramkan ke angkasa. Hijau, merah, kuning saling berdatangan dari setiap sudut kota Bandung, pemandangan malam di langit Bandung saat ini sangat indah. Sorak gembira hampir menghabisi ruang suara lain untuk terdengar. Setiap orang memberi ucapan selamat tahun baru.
            “Selamat tahun baru, Ariiiin.” Maura memelukku dan dilanjutkan dengan memeluk teman-teman lainnya.
            “Happy new year too, Maura.” Aku membalas pelukannya, kami semua bersenang-senang malam ini. Menikmati pesta tahun baru.
            Seorang lelaki dengan jacket berwarna creamy smooth mendadak ada dihadapanku berdiri dengan tegak. Senyumnya menelusup melewati kornea milikku. “Happy new year Maura, Arini.”
            Maura tersenyum dibuat sangat manis menyambut kedatangan dan ucapan Panji. “Selamat tahun baru juga Kak Panji.” Ada cinta di matanya yang berbinar, tak ada satu pun yang bisa lebih jujur dari sorotan mata manusia. Pada tatapan, setiap jiwa mengungkapkan perasaannya dengan lembut dan tak mengganggu.
            “Yeah, happy new year too Ji.” Kubalas ucapannya dengan amat kubuat seperti mengabaikan, menatapnya dengan sekilas.  Kuharap kali ini tatapanku tak akan jujur seperti kodratnya.
            Panji berlalu meninggalkan kami berdua, setelah sebelumnya aku menangkap raut yang tak bisa kudeskripsikan maksudnya. Kali ini aku tak ingin mereka-reka apapun kemungkinan yang mungkin saja benar, mungkin saja ia sedang sangat kelelahan.
***
Taufan tenggelam dengan kesibukannya, sudah jam setengah dua ia belum juga kembali dari urusannya. Maura sudah pulang dijemput ayahnya. Sedangkan aku masih menunggu Taufan di koridor depan ruang kelas 1B, lampu-lampu pesta masih berkelip-kelip, mungkin belum ada yang sempat mematikannya. Beberapa anak OSIS yang lewat tak tahu setiap kutanya dimana Taufan.
Berkali-kali Andri menelepon, mungkin ia khawatir dengan adik satu-satunya ini. Tapi aku tak menghiraukannya, aku sibuk menekan tombol “dial” pada kontak Taufan, sialnya teleponku juga tak dihiraukannya.
Setengah jam berlalu, aku masih setia mondar-mandir setrikaan menunggu Taufan. Suasana sedikit demi sedikit semakin sepi. Tinggal beberapa saja yang lalu lalang di hadapanku. Kantuk dan bosan mulai menggerogoti setiap kutengok jam di tanganku. Aku bergegas berdiri dan berniat mencari Taxi, semoga ada.
“Arini.” Lelaki berjacket creamy smooth itu berteriak dari pojok depan pintu kelas 1E. Sedikit berlari menghampiriku.
“Apa?”
“Lo sendirian aja?”
“Mungkin.” Aku menjawab setengah putus asa.
“Taufan, kemana?”
“Gak tahu, katanya cuma mau cek kesiapan acara dari tahun kemarin.”
“Hahaha, bisa ya lo nunggu dia sampe setahun.” Panji tertawa seolah aku ini badut yang telah berkata tolol, mungkin baginya ini lucu. Tapi bagiku, ini deg-degan. Mununggu Taufan sampai kesal dan tiba-tiba lelaki yang diam-diam bayangnya sering kucuri dengan lancang dalam pikiran liarku ini datang.
“Lucu ya?” ah shit, aku ketus lagi padanya. Aku tak pernah bisa seperti Maura yang selalu sangat manis dihadapannya. Tunggu dulu, kenapa aku ingin menjadi manis di matanya? Shit.
“Sorry” Ia berhenti tertawa, mungkin ia mengerti aku sedang tak ingin diajaknya bercanda. “Maura mana?” Maura? Jadi dia kemari untuk mencari Maura?
“Pulang.”
“Oh, pulang kemana dia?”
“Ke rumahnyalah. Kemana lagi? Ke rumah lo?” ini bukan ketus yang biasa kutukaskan padanya, yang selalu kubuat acuh diriku seperti tak peduli. Kali ini aku marah karena Panji seperti sangat ingin tahu tentang Maura, perasaan yang kuhindari kepastiannya dan kali ini aku tak dapat mengelak bahwa aku cemburu. Dan parahnya, cemburu adalah tanda cinta. Aku mencintai Panji dalam pelukan Taufan.
Panji mendekat, sangat dekat. Gilanya jantungku tak lagi kembang kempis. Bahkan lebih parah kali ini, berhenti berdetak. Ia menatapku dengan tajam, aku mengerti arti tatapannya. Ia seperti keheranan dengan sikapku. “Lo kenapa sih Rin? Setiap ngomong sama gue enggak pernah ada manis-manisnya.”
Kenapa? Kenapa bagaimana? Aku tak pernah berpikir akan masuk ke dalam percakapan seperti ini. Mengapa harus ada pertanyaan macam itu yang berasal dari dirinya. Dan aku kelu, tak tahu mau menjawab apa. Tak mungkin kukatakan perasaan yang baru saja kusadari kebenarannya. Ketahuilah tampan, aku merasa bodoh dengan semua ini, kehadiranmu disini seperti menabur benih diatas sawah yang ditumbuhi padi.
“Kenapa apanya? Perasaan lo aja kali. Nggak usah nanya yang aneh-aneh deh.” Tukasku kekeh tak mau merendahkan suara sedikitpun, masih dengan angkuh yang sekuat tenaga kubuat menutupi hati yang ranum di padang gelisah.
“Oke, mungkin gue yang terlalu gede rasa sama lo.”
Gede rasa? Apa lagi maksudnya ia membawa-bawa hal naif bernama rasa dihadapanku. Ada apa dengan tatapanku? Ah, sudah kukatakan mata memiliki cara yang jauh lebih lembut untuk menyampaikan apa yang sedang dirasakan oleh pemilik hati. Saat aku belum menyadari apapun yang sedang kurasakan, ia menyampaikannya diam-diam dengan lancang.
“Gede rasa? Maksud lo?”
“Nothing, sorry gue terlalu naif. Gue hampir lupa lo punya Taufan, mana mungkin haha.” Kerlingannya terjadi begitu saja, ada tawa yang di dalamnya terselip kecewa. Kecewa yang ingin kupeluk detik ini juga, biar lenyap dalam dekapku dan dia bahagia.
Diamku sesak. Aku memandangnya lekat, ingin mengatakan bahwa baru saja aku pun sadar aku mencintainya. Tapi, bagaimana dengan Taufan? Maura?
Lalu bagaimana denganku jika tak mengatakannya, aku akan sangat menyesal. Kenapa kau harus datang saat ini? Mengajakku masuk ke dalam lingkaranmu, sementara lingkaranku beririsan dengan lingkaran Taufan. Panji, ini sangat sulit. Percayalah.
Aku berkaca-kaca dalam hening, kami saling diam dalam jarak yang begitu dekat. Aku yakin, Panji mengerti benar apa yang kupikirkan dan kurasakan saat ini. Lagi-lagi mataku membuatnya mengerti.
Tiba-tiba Panji memegang lenganku gugup, tapi kemudian genggamnya semakin erat. Aku mengerti maksudnya, ia sedang meyakinkanku tentang hal yang menyulitkan ini. Ia semakin dekat, nafas kami saling menyapa. Ia mendaratkan kecupan di bibirku, kusandarkan kepalaku di atas dada bidangnya. Kami berpelukan.
“Aku menunggu kesempatan, tapi tidak pernah ada. Menunggumu sendiri, tapi belum juga. Aku tak ingin menunggu lagi Arini, aku mencintaimu.” Ia mengucapkannya dengan lembut diatas kepalaku yang saat ini ia usap, penuh cinta.
“Aku juga mencintaimu, Panji.”
Panji mengangkat kepalaku dari dada bidangnya, ia menggenggam lengan atasku. Mendaratkan kecupannya kembali di keningku. “Sudah malam, kamu pulang ya sekarang. Biar aku antar.”
Aku tak bisa berkata apa-apa, yang aku tahu saat ini ada bahagia. Ada lega yang kutemukan ketika kami berpelukan, ada resah yang lepas ketika aku bersandar di dadanya. Aku hanya mengangguk menatapnya dan tersenyum. Tapi, ada sesak yang meluncur masuk bak anak panah, pria di ujung sana beberapa meter dariku dan Panji, mengoyak bahagia dan lega yang kupunya. Tatapannya geram, ia menyemburkan kecewa lewat gerimis kecil yang terjadi di wajahnya. Ya tuhan, Taufan melihat semua ini, aku menyakitinya.
“Taufan, aku bisa jelasin semuanya.” Teriakku.
Ia berjalan meninggalkan kami berdua, aku ingin mengejar Taufan. Tapi Panji memegang erat tanganku, dan bukan pegangan tangannya yang membuatku mematung seperti ini. Tapi tatapannya yang penuh harap, aku tak bisa menolak.
Panji menenangkanku, ia hanya menenangkanku dengan tatapan dan pelukannya saja. Itu sudah lebih dari cukup. Walau ada resah yang mengoyak, tapi disini nyaman.
“rrrrdddddd” tiba-tiba benda kecil bernama handphone di saku milikku bergetar. Aku melepas pelukan Panji dan membuka pesan yang masuk. Pesan dari unknown number, tak aku kenal nomornya.
“Rin lo dimana? Ini gue Bintang. Taufan kecelakaan sekarang on the way Hasan Sadikin.”
***
            Kulihat pelupuk barat, matahari mulai lelah menari dengan siang. Ia mulai turun pelan, lunglai. Dua anak kecil tadi sudah pulang, kuyakin mereka akan dimarahi ibu mereka karena pulang sesore ini.
Aku pun ingin pulang, hampir delapan jam aku berdiam disini. Berdiam diri setiap hari merindukannya. Mengingat-ingat betapa ia mencintaiku, aku tak bisa lagi menahan rindu ini Tuhan.
Ada sesal yang sesak dan lebih dari koyakan yang menghabisi bahagia yang kupunya. Aku ingin meneleponnya mengirimi ia pesan singkat menyampaikan rindu yang menyusahkan putaran jarum pada jam di tanganku.
Seandainya mampu kuputar kembali sang waktu. Malam itu aku akan ikut pulang dengan ayah Maura, dan Taufan tak akan pernah melihatku sangat bahagia dalam pelukan Panji. Akan kuhindari segala hal yang membuatku menyakitinya, terlebih sedalam ini.

Kau tahu? Saat itu mungkin aku hanya jenuh denganmu. Tapi jenuhku tak menghentikan cinta. Ketika ia datang menanam benih baru dalam hatiku, tapi padimu masih tumbuh subur di sana. Kau tahu saat ini? Aku setengah gila karena sesal. Aku merindukanmu, Taufan. Aku ingin ikut denganmu, berbaring memelukmu di bawah nisan itu.
***